Thursday, 5 January 2012

Review - Manusia Setengah Salmon




Judul:           Manusia Setengah Salmon
Penulis:        Raditya Dika
Editor:          Windy Ariestanty
Genre:          Nonfiksi – Komedi
Redaksi:       Gagas Media
Terbit:          24 Desember 2011
Harga:          Rp 42.000



Sampai akhir tahun 2010, JUJUR, aku ga tau siapa itu kak Raditya Dika. Sampai suatu hari, teman aku bilang, "Kamu ga tau yang namanya Raditya Dika? CUPU banget!". Kalimat yang paling JLEB, yang pernah aku dengar. Kalau di film layar lebar, ketika sampai di bagian "CUPU banget!", kalimat itu diulang dan kamera bakal zoom 3x sampai close up ke muka aku.

Perjuangan untuk mendapatkan buku Manusia Setengah Salmon terbilang gampang-gampang susah. Gampangnya, aku bisa beli buku ini sebelum kehabisan. Susahnya? Untuk mencapai Gramedia (dari tempat bimbel) , butuh waktu ±30 menit, belum ditambah traffic jam yang kalau ditotalin bisa menghabiskan masa muda di perjalanan. Tapi karena niat sudah bulat, kesulitan apapun akan ditempuh.

            Menurut aku, Bang Radit jago banget dalam nyusun Manusia Setengah Salmon. Kalimat-kalimat yang terangkai seperti ada magic, sehingga membuat pembaca tertawa. Aku sendiri tertawa sampai setengah pingsan (antara sadar dan tidak). Dari awal sampai akhir, semua bab yang ada di Manusia Setengah Salmon memberi sugesti kepada kita untuk tertawa.

            Bagian yang PALING aku suka itu bab “Pesan Moral dari Sepiring Makanan” – first date di restoran Jepang Anumoto dan ketemu orang Jepang yang mabuk – serta  “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” – perkenalan dengan si Perek sampai akhirnya dikira drug addict – bikin ngakak guling-guling.  “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” juga menyadarkan aku bahwa tanpa kasih sayang dari seorang Ibu, kita tidak akan bisa menjadi diri kita yang sekarang. That’s right, isn’t it?



Awalnya sih fine-fine aja sama gambar ini. 
Tapi, alamat kost aku di Jln DUYUNG -_-


            Setelah dibaca sampai habis, kesimpulan yang aku dapat dari buku ini adalah ‘MOVE ON’. Intinya, sebagai manusia kita semua pasti mengalami masa ini. ‘Move On’ bukan istilah yang dipakai dalam hal berpacaran saja. Dari SD sampai masuk ke Universitas kita selalu ‘berpindah’. Kelas baru, teman baru, guru/dosen baru, suasana baru semua jadi berubah karena ‘Move On’ itu tadi. Jadi, fase kehidupan kita tidak lari dari konsep ‘Move On’.

            That’s all about my review. Bagi yang belum beli, mending beli sekarang deh. Nanti kalau udah kehabisan urusannya bisa gawat. Hehehe.





Bang Radit habisin snack-ku
-__-

No comments:

Post a Comment